Bengkayang
(Kalbar Times). Setiap tanggal 10 November NKRI memperingati hari Pahlawan.
Guna mengenang jasa-jasa para pahlawan, Harian Kalbar Times melakukan kilas
balik tragedy 1965 bersama pejuang 1965 yang satu-satunya masih hidup.
Menurut Edward Tenlima, mantan Danlanud Singkawang Dua,
Bengkayang, banyak sukarelawan datang dari Malaysia, dilatih secara kemiliteran
di Sanggau Ledo, Bengkayang. Setelah itu, mereka kembali ke Malaysia melakukan
penyusupan. Sukarelawan itu sebagian besar dari Cina Serawak.
PGRS dilatih di tempat rahasia dan jauh dari perkampungan
masyarakat. Alasan pemilihan Sanggau Ledo sebagai tempat latihan, daerah itu
pusat pemukiman orang Cina. Seperti, di Piong San dan Sepang.
Dengan cara itu, para sukarelawan yang sudah dilatih,
lebih mudah mengajak orang Cina di daerah itu, bergabung menjadi sukarelawan
dan melawan Malaysia. Daerah itu juga dekat dengan perbatasan Malaysia sebelah
barat. Jaraknya sekitar 43 kilometer.
Letnan Kolonel PNB (Purn) Edward Tenlima atau Edo Mantan
Dan Lanud Singkawang Dua di Sanggau Ledo mengatakan, ia menjadi pilot pesawat
Mustang dan berpangkalan Lapangan Udara (Lanud) Abdul Rachman Saleh, Malang,
Jawa Timur.
“Pada 2 Oktober 1965, dia diminta
terbang bersama puluhan pesawat tempur lainnya ke Jakarta. Bila sebelum operasi
pilot tahu, operasi apa yang akan dijalankan, malam itu dia tidak tahu. Pokoknya kenakan pakaian dan terbang,” cerita Edo.
Dia terbang menyisir laut utara Jawa. Begitu mendekati
udara Jakarta, tiba-tiba mendapat perintah mendarat di Bandung.
Selanjutnya, dia harus mengenakan
terus baju pilot siap tempur dan berada di samping pesawatnya, menunggu
perintah selanjutnya. Hingga sebulan lebih, dia berada di samping pesawat
tempurnya. “Pokoknya, harus siap terus. Makan dan tidur tidak boleh jauh dari
pesawat,” kata Edo.
Dari empat pilot pesawat Mustang yang ada, hanya dia yang
boleh terbang. Alasannya, karena dia dari Ambon. Lainnya dari Jawa dan
“dianggap berbahaya.”
Dia mendapat perintah langsung dari
Leo Watimena, Panglima Pasukan Gerak Tjepat (PGT), sekarang bernama Paskhas.
Leo orang Ambon dan dekat dengan
Suharto. Laksamana Madya Omar Dhani, Menteri/Panglima AURI, yang menjabat
Panglima Dwikora dianggap lebih dekat kepada Presiden Sukarno.
Pangdam XII Tanjungpura yang ketika itu dipimpin Brigjen
Ryakudu (Sekarang anaknya menjadi Menteri Pertahanan yang bernama
Ryamizard Ryacudu) juga mengalami kesulitan, mana kawan dan
lawan. Semua serba tak jelas.
Pascaperistiwa 30 September 1965, ada pesawat dari Jakarta
yang menyebarkan selebaran dari udara di Bengkayang. Isinya, Jakarta dalam
kondisi aman. Peristiwa itu terjadi sekitar 1966.
Pada 11 Maret 1966, Presiden Sukarno memberikan mandat
kepada Jenderal Suharto. Pengalihan kekuasaan ini disebut dengan Supersemar
atau Surat Perintah Sebelas Maret.
Perubahan kepemimpinan, turut pula memengaruhi kebijakan
pemerintah. Konfrontasi dengan Malaysia dihentikan dengan pertemuan di Bangkok,
Thailand pada 28 Mei 1966. Pemerintah Indonesia dan Malaysia mengadakan
perjanjian damai pada 11 Agustus 1966.
Perdamaian ini, berpengaruh terhadap kebijakan pemerintah
Indonesia. Juga kepada para tentara dan gerilyawan yang pernah direkrut, untuk
membantu konfrontasi dengan Malaysia. (yopi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar