Senin, 05 Desember 2011

Ledo Diterjang Banjir Kiriman


Bengkayang. Dua hari terakhir Kabupaten Bengkayang di guyur hujan, bagi daerah hulu tidak mengalami banjir tetapi terjadi di Kecamatan Ledo dimana wilayah ini menjadi muara pertemuan sungai dari beeberapa kecamatan yang ada di Bumi Sebalo. Kota Ledo pun akhirnya diterjang banjir.
Edi, Warga Desa Lesabela Kecamatan Ledo mengatakan, banjir di daerahnya sejak semalam. Dan ini merupakan banjir kiriman dari bagian hulu DAS (Daerah Aliran Sungai) Ledo yakni dari Kecamatan Bengkayang, Teriak, Suti Semarang dan Lumar.
“Banjir kali ini baru pertama kalinya terjadi lagi, sebelumnya dua tahun yang lalu rumah saya yang berada di Steher atau di Pasar Ledo lama terkena banjir mencapai dua meter, kali ini belum seberapa parah banjirnya,” ungkap Edi ditemui dikediamannya, Minggu (4/12).
Edi melanjutkan, masyarakat Lesabela sudah biasa dengan kejadian banjir dan telah mengantisipasi dengan membuat rumah tingkat dua. Apabila banjir sudah menggenangi teras rumah bahkan mencapai tinggi orang dewasa, barang-barang yang ada di naikan ke lantai atas.
“Apabila hujan tidak turun, sekitar dua sampai tiga hari baru surut. Tetapi apabila hujan turun didaerah hulu dimungkinkan ketinggian banjir akan meningkat. Dua tahun yang lalu banjir surut membutuhkan waktu selama 10 hari,” ucapnya.
Terpisah, Lasius, warga Desa Tebuah Marong Kecamatan Ledo saat ditemui di depan Kantor Camat Ledo pada Sabtu (3/12) malam mengungkapkan, sudah lima jam dari pukul 19.00-23.00 baru dapat melintasi jalan proyek multi years Ledo-Subah.
“Selama lima jam saya menunggu air surut dikarenakan banjir, walaupun badan jalan sudah ditinggikan tetapi jembatan masih belum dibenahi sehingga lalu lintas macet. Banjir disini tingginya mencapai dua meter dari badan jalan,” aku SIus, kemarin.
Samahalnya dengan Nikodemus warga Desa Belimbing Kecamatan Lumar, saat ia pulang dari tempat mertuanya di Kecamatan SUbah Kabupaten Sambas, di depan kantor camat sekitar pukul 10.00 pagi terjadi antri panjang dikarenakan banjir di depan Kantor Camat Ledo.
“Syukur ada teman sekampung, akhirnya motor saya dipikul oleh kami berempat supaya dapat melintasi banjir walaupun merasa derasnya sungai. Bagi warga yang nekad melintas, ada tukang angkat tetapi dikenai biaya 10 ribu rupiah, itu pun apabila motor Jupiter dan supra, apabila jenis yang lain dihitung berat beban motornya dan ditambah dua kali lipat,” beber Niko ditemui dikediamannya, Sabtu (3/12).
Sementara itu, Robertus, Anggota DPRD Bengkayang menegaskan, banjir yang terjadi di ibu kota kecamatan Ledo menandakan dan membuktikan bahwa hulunya DAS Ledo  terutama hutannya perlu dijaga dan dilestarikan.
“Sekarang saja kota Ledo mau tenggelam, apalagi PT Rajawali beroperasi dan menanam sawitnya di hulu terutama di Kecamatan Suti Semarang, bisa-bisa pasar Ledo lama tenggelam,” tandas legislator asal Kecamatan Suti Semarang ini ditemui di kediamannya di Desa Bani Amas Kecamatan Bengkayang, kemarin.
Dari pantauan awak Koran ini dilapangan, Sabtu (3/12) malam banjir berada di lima titik di Kecamatan Ledo yakni di Dusun Sangat Molo, Depan Kantor Camat Ledo, Lalang, pasar lama Ledo (Steher, Red), dan depan Puskesmas Ledo. Sekitar pukul 23.00 dua titik yakni Di Dusun Sangat Molo dan depan Kantor Camat ledo telah menyusut.
Minggu (4/12) saat awak Koran ini kembali memantau situasi dan kondisi di lokasi banjir, Kampung Lalang telah menyusut, hanya di depan Puskesmas dan Pasar Lama Ledo yang masih tergenang banjir.
Sampai berita ini diturunkan, banjir di kedua titik tersebut masih belum surut. Dari pengakuan dari beberapa warga sekitar, belum ada bantuan dari pihak pemerintah setempat maupun dari intsani terkait. Akibat banjir kiriman ini, bahan baku pengerjaan jalan dan jembatan di pasar lama Ledo hanyut dibawa air.serta kerugian akibat banjir ini belum terdata dan tidak memakan jiwa. (cah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar