Senin, 06 Agustus 2012

Bengkayang Belajar ke Kutim Kaltim


Agustinus Naon (tengah)
Bengkayang Beranda Kalbar-Kaltim. Pembangunan infrastruktur jalan darat yang menghubungkan Kutai Timur dengan Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalbar, hingga awal Agustus 2012 ini belum tembus. Kondisi ini mengharuskan pejabat Bengkayang harus melewati Pulau Jawa dulu bila ingin bertemu saudara sepulaunya (Kalimantan) di Sangatta. 
“Kedengarannya memang sedikit aneh, tapi faktanya memang demikian. Untuk bertemu saudara satu pulau, harus melewati Jakarta, Pulau Jawa dulu, baru bisa. Kalau tidak melewati Pulau Jawa, kita-kita ini tak bisa saling kunjung mengunjungi,” ungkap Agustinus Naon, Wakil Bupati Bengkayang di Sangatta, Kutai Timur, Kamis (2/8).
Mantan Kepala BKD Kabupaten Bengkayang ini melanjutkan, ketemuanya kadang hanya di Pulau Jawa sana. Padahal kita ini sama-sama tinggal di Pulau Kalimantan. Aneh kan tapi begitu kondisinya.
Dalam diskusi yang disimak pejabat dari dua kabupaten (Kutim-Bengkayang) ini, suasana tatap muka yang dilangsungkan di lantai 2 Ruang Tempudau, Kantor Bupati, Bukit Pelangi, cukup hangat.
Agustinus Naon menyebutkan, Bengkayang lebih dulu dimekarkan berdasarkan Undang Undang Nomor 10 Tahun 1999 tanggal 27 April 1999.
Sedangkan menurut Bupati Isran Noor, Kutim dimekarkan berdasarkan Undang Undang Nomor 47 Tahun 1999 tanggal 12 Oktober 1999.
Sehingga Bengkayang lebih tua lima bulan dari Kutim. Tapi umurnya hampir sama. Dua kabupaten pemekaran, yakni Kutim dan Bengkayang, berada dalam satu pulau.
Ada yang terletak di bagian barat dan ada pula yang terletak di bagian timur Kalimantan. Tetapi soal karakteristik wilayah hampir sama.
Bedanya, di Bengkayang tidak ada batu bara. Penduduknya pun heterogen.
“Tapi bertemu dengan saudara sepulau, susahnya minta ampun. Harus lewat Jawa dulu. Makan di Jawa sana, bayar retribusi dan sebagainya, berarti kita menambah PAD atau pendapatan asli daerah di Jawa,” kesalnya.
Sementara Bengkayang sendiri PAD-nya masih sedikit. Itulah yang mendorong Pemkab Bengkayang rela menempuh perjalanan jauh untuk bertemu saudara sepulaunya.
Agustinus Naon menyatakan, kendati seperti itu, hingga saat ini orang Kalimantan belum pernah minta merdeka.
“Zaman Presiden Soekarno dulu, memang pernah direncanakan ibu kota negara Indonesia di Kalimantan Tengah. Tapi itu tidak ada realisasinya,” ucapnya.
Karena mungkin sewaktu itu, presiden pertama Indonesia ini sudah mengetahui bahwa pulau Kalimantan bebas dari bencana gempa. Namun zaman Orba atau orde baru, bukan ibu kota yang dipindah, tapi orang Jawa banyak ikut transmigrasi. Selamatkan orang Jawa dari gempa.
Bupati Isran Noor menyambut baik kunjungan Pemkab Bengkayan di Sangatta. Katanya, antara Bengkayang dan Kutim memiliki banyak persamaan.
Di antaranya, bupatinya sama-sama Ketua DPD Partai Demokrat. Yakni ketua DPD Partai Demokrat Kalbar, sementara Isran adalah ketua DPD Partai Demokrat Kaltim.
Kutim dan Bengkayang juga sama-sama memiliki wilayah perairan, pulau dan darat. Penduduknya pun ada suku Jawa, Bugis, Dayak, Madura, Batak, dan suku lainnya.
Jadi Kutim adalah miniatur Indonesia. Bagus sekali kalau jalinan komunikasi untuk membangun dua kabupaten pemekaran terus dikembangkan.
“Silahkan apa-apa saja yang diperlukan, kami siap membantu,” tutur Isran Noor dalam sambutannya.
Wakil Bupati Bengkayang bersama Camat dan kepala SKPD lainnya di lingkungan Pemda Bengkayang berangkat ke Kutim untuk belajar. (cah/humas bky)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar