Selasa, 18 Oktober 2011

Bengkayang kekurangan Tenaga PPL


 Bengkayang. Mayoritas masyarakat Kabupaten Bengkayang bergerak dibidang pertanian terutama pada 17 kecamatan tersebut. dengan kondisi seperti ini wajar saja masyarakat Kabupaten Bengkayang masih mengelola lahannya dengan cara tradisional dikarenakan kekurangan tenaga PPL.
B Petrus Diaz, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bengkayang mengatakan, Bumi Sebalo masih kekurangan tenaga PPL (Petugas Pemantau Lapangan). Hal ini buka tanpa alasan, kabupaten ini memiliki 122 desa dan dua kelurahan sedangkan tenaga yang ada dibawah angka tersebut.
“Kita baru memiliki 90 lebih tenaga PPL. PPL yang PNS baru 40 orang, honor daerah sebanyak dua orang, sedangkan sisanya PPL kotrak,"beber Mantan Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bengkayang, ditemui diruang kerjanya, belum lama ini.
Mantan Camat Siding dan Capkala ini melanjutkan, keberadaan PPL selama  masih belum efektif untuk meningkatkan kesejahteraan hidup petani dikarenakan kekurangan tenaga. Diaz menjelaskan, normalnya ialah masing-masing desa memiliki satu PPL. Wajar saja masyarakat yang ada di Bumi Sebalo pola pertaniannya masih menggunakan cara tradisional.
Walaupun PPL bernaung dibawah Badan Pelaksana Penyuluh dan Ketahanan Pangan Kabupaten bengkayang, tetapi Dinas Pertanian dapat meminta bantuan kepada mereka. Awalnya dulu BPPKP dibawah Distan, ini dikarenakan kita mengikuti pemerintah pusat.
“Yang bersifat program ada di Dinas pertanian, sedangkan personil di lapangan yang mengurusi ialah BPPKP. Makanya untuk mensukseskan program pertanian, kita saling berkoordinasi dengan BPPKP,” terang Diaz, kemarin.
Oleh karena itu, Dinas Pertanian Kabupaten Bengkayang memiliki kewajiban untuk membantu melatih PPL. Karena PPL merupakan ujung tombak susksesnya program-program yang diluncurkan Kementrian Pertanian.
Ia menceritakan, saat orde baru dimana Diaz merupakan mantri tani. Ia bertugas di Jawai Kabupaten Sambas. Dahulu, setiap mantri tani wajib menguasai bahasa masyarakat setempat dan berdomisili ditempat tugas. Wajar apabila ia tahu bahasa melayu Sambas.
“PPL wajib berdomisili dan tahu bahasa tempat tugas. Apabila menguasai bahasa tempat kita bertugas, kita akan cepat akrab dengan petani. Jangan sampai PPL tidak menguasai bahasa setempat, akibatnya tidak nyambung dengan petani,” sarannya.
PPL sifatnya harus mengerti semuanya, karena PPL membantu Dinas Pertanian, Peternakan, Kehutanan, Perikanan dan Kelautan. Oleh karena itu, idealnya Dinas Pertanian harus ada UPPD karena sebagai perpanjangan tangan di kecamatan. Dengan sistem setiap bulan ada pertemuan di kabupaten.
Acong, warga Kelurahan Bumi Emas Kecaatan Bengkayang memepertayaan, kenapa dalam penerimaan PPL kontrak yang diterima strata satu pertanian dan peternakan saja sedangkan lulusan kehutanan dan kelautan tidak masuk. Padahal didaerah-daerah seperti Kabupaten Bengkayang banyak membutuhkan sarjana kehutanan dan kelautan.
“Apalagi Bumi Sebalo memiliki tiga hutan lindung dan satu cagar alam (yang berada di Kecamatan Lembah Bawang, Sungai Betung, Samalantan, Bengkayang, Capkala, Teriak, Lumar, Tujuh Belas, Seluas dan Siding, Red) serta Kecamatan Sungai Raya dan Sungai Raya Kepulauan yang  merupakan daerah pesisir,” ungkap bapak satu putra ini ditemui di Jalan Sanggau Ledo, Bengkayang.
Acong memiliki pemikiran seharusnya Pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten membuka lowongan penyuluh kehutanan dan kelautan di Bumi Sebalo untuk ditempatkan dikecaatan yang berbatasan langsung dengan hutan lindung dan cagar alam. (cah)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar